Senin, 13 Agustus 2018

Danau

"Aku sedang membangun sebuah danau, danau yang diisi oleh rintik hujan rindu yang terus kau kirim", Sebuah sajak roman yang sangat romantis jika dihiasi dengan kasih. bagaimana tidak jika rindu tersebut bak menghujani gurun yang tandus.


Sajak tersebut lalu ku acuhkan begitusaja. ternyata itu hanya roman klasik, tidak jauh dari komedi romantis yang menyajikan gombalan-gombalan palsu. roman yang sangat ampuh untuk manusia yang sedang dilanda asmara, namun tajam berbalik bagai boomerang bagi siapa saja yang dilanda badai kekecewaan. wahai dunia, kenapa sajianmu begitu gemerlap, kemilau menutup mata logika? tanyaku dalam hati. Kembali merenung akan sebuah perjuangan, banya para pujangga bilang "tak ada perjuangan yang sia-sia", sekilas ungkapan itu ada benarnya, sangat benar. tetapi ternyata tak semua perjuangan tak ber sia-sia, hanya saja mungkin salah alamat. sanyangnya, tidak ada teknologi apapun untuk mendeteksi salah alamat rindu, bisa jadi kurir yang mengantarkan rindu untuk mengisi danau ini hanya imajinasi belaka. aku masih kecewa kenapa tendensi masih melekat pada diri ini, bisa jadi ini adalah dampak atas keputusan yang telah kuambil sebelumnya. Keputusan untuk tetap bertahan dengan cara yang salah. Ya, bersiap melewati jurang yang selama ini kubuat sendiri.

Kembali tersadar bawasannya aku hidup di negara yang sangat multikultural, kesadaran yang membawa pada realita kehidupan yang sangat indah, sekaligus penuh dengan kerikil yang siap untuk menjatuhkan siapapun yang berjalan diatasnya, kapan saja, mulai dari suku, agama, dan antar golongan, dan sayangnya aku tergelincir. Di waktu kecil, aku mengira perbedaan hanya sebatas SARA, namun nyatanya ke-4 elemen tersebut masih mempunyai akar yang semakin runcing, dan semakin menjauh satu sama lain. persatuan yang digadang-gadang dan disindir oleh para petinggi, mahasiswa, dangkat berbagai genre film-film fiksi, disyairkan para pujangga dengan kata mutiaranya, nyatanya hanya "menutupi" dan hanya sebagai penghias kehidupan belaka, ditengah realita yang sebenarnya, sama saja. adakah seorang aku hanya mengikuti arus air yang tak tau kapan akan terjun di lembah. raut wajah senyum bibir kelopak mata dan mimik wajah dapat dirubah, namun isi hati siapa yang tau? Tanpa tersadar, tetes air mata perlahan mengalir kala membaca kalam-Nya, saat dimana pintu hati terbuka, seharusnya, saat inilah yang harusnya aku rindukan. 

Dunia er-sepi-an sepertinya memang menjadi takdir di usia ini, sosok yang aku impikan muncul, tapi tetap keadaan tidak bisa terelakkan, bertahun-tahun aku memikirkan bagaimana memungkinkan ketidakmungkinan ini nyatanya hanya semakin melukai hatimu, jika hukuman ini yang kamu jatuhkan terhadap diri ini, aku bisa apa? niat hati ingin bertemu, apalah daya hanya buaian semu. sampai raga ingin jumpa, apa daya engkau tak terima. tak perlu khawatir akanku, bawasannya nama baikmu di raga ini akan tetap baik. walaupun, namaku mungkin sudah tak berguna di benakmu. Aku sedang memberi selamat kepada diriku sendiri atas diperpanjangnya masa per-sepi-an ini, dan selamat atas hancurnya reputasi diri, yang selanjutnya memang tak perlu dibangun kembali, karena memang sudah hancur, untuk apa membangun citra yang asliku aja buruk sekali. Ikrarku dalam diri untuk tidak bermain api yang hampir sempurna menemui titik kegagalan, makan standar baru harus mulai diterapkan, no more hurt games.

Realitas kembali menyelimuti tiap jam dinding yang berdetik. teringat sebuah ungkapan dari sahabat, "bukankan keterpurukan dan kekecewaan merupakan kondisi terbaik untuk bangkitn kembali?". setiap orang memiliki titik baliknya masing-masing, siapa kira salah satu teman dulu yang tidak tahu apa-apa tentang dunia yang ditekuninya, sekarang menjadi seorang yang dipercaya di bidang yang ditekuninya? berkat titik balik yang berhasil ia lalui. titik balik dimana setiap manusia akan menemukan kunci untuk membuang tendensi.


tidak tahu kapan gejolak ini akan mereda, niat hati ingin jumpa, entah mungkin sudah berputus asa.




Categories:

0 komentar:

Posting Komentar